Sorry, I Have to Go - Part 1

          Sinar pagi yang cerah, menerangi sebuah kamar di sebuah rumah mewah. Seorang gadis yang cantik namun sedikit pucat pun terbangun dari mimpi yang baginya sungguh indah, daripada harus melihat kenyataan yang menyakitkan. Gadis ini bernama Alyssa atau biasa disapa Ify, kanker otak stadium akhir. Sudah 3 bulan ia menjalani hidupnya bersama dengan penyakitnya, hidupnya hanya bergantung dengan obat-obatan. Kalau saja ia masih seperti dulu, memiliki 3 sahabatnya yang selalu ada disampingnya, mungkin setidaknya bisa meringankan bebannya. Namun, sekarang sahabat-sahabatnya itu menganggap dirinya sampah, entah karena apa. Tapi Ify menanggapinya hanya dengan senyuman. Karena ia tau hidupnya tidak akan lama lagi.
          Ify terlahir di keluarga yang berada. Ify hanya tinggal bersama sang Mama. Sedangkan ayah dan adiknya menetap di kota Bandung.

"Ify kamu gak sekolah?" Tanya sang mama yang sudah ada di depan pintu kamarnya.

"Sekolah kok Ma." 

"Yaudah sana siap-siap nanti telat."

"Iya Ma."

         Ify pun bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kemudian ia turun dari kamarnya menuju ruang makan, sarapan bersama sang Mama.

"Ma Ify berangkat yaa." Pamit Ify sambil mencium punggung tangan sang Mama.

"Iya hati-hati. Obatnya dibawakan?"

"Bawa kok Ma, Ify berangkat yaa assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsallam."

              Ify berangkat diantar oleh supirnya. Selama di perjalanan Ify sudah menguatkan hatinya untuk menerima perkataan dan tingkah laku ketiga sahabatnya itu. Ify sebenarnya tidak dijauhi oleh semua teman-temannya, malah sebagian besar mendukung Ify dari sikap sahabat dan beberapa teman-temannya yang lain.


             Setelah sampai di sekolah, Ify berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai 2.

"Assalammu'alaikum, pagi semuanya!" Sapa Ify ceria seperti biasanya.

"Wa'alaikumsallam, pagi juga Fy." Jawab teman-temannya yang ada di kelas, kecuali ketiga sahabatnya.

               Shilla, Sivia dan Agni, adalah ketiga orang yang Ify maksud. Ketiga gadis itu malah asik mengobrol bersama Angel dan Zevana. Mereka menganggap seakan-akan tidak ada yang bicara. Ify hanya menghelas nafas dan tersenyum. Ia menaruh tas di mejanya lalu memakai headphone dan melanjutkan tulisan yang belum selesai.


               Semenjak sakit, Ify memang jadi suka menulis. Di sela ia menulis, matanya tidak sengaja menangkap sahabatnya yang sedang mengobrol sambil melirik kearahnya, yang tentunya seperti biasa, Ify selalu di cemooh oleh mereka. Ify tetap mencoba tersenyum, walaupun sebenarnya tangannya sudah mengepal dengan keras menahan emosi. Tapi betapa beruntungnya Ify, karena masih ada teman-temannya yang membantunya dan selalu menguatkannya. 

"Hai Fy." Sapa kedua temannya, Dea dan Rio.

"Hai De, Yo." Balas Ify

"Sabar ya Fy." Ucap Dea sambil menepuk pundak Ify.

"Always."

"Tenang aja Fy, gak ada mereka, lo masih punya kita." Ucap Rio

menyemangati.

"Iya gue tau kok, thanks yaa." Jawab Ify. Dea dan Rio hanya mengangguk sambil tersenyum. Ify memang berteman dengan siapa saja. Maka dari itu Ify banyak mempunyai teman. Dea dan Rio termasuk teman dekat Ify juga, mereka tidak pernah absen mendatangi meja Ify setiap harinya.

"Oh iya nanti kekantin nggak lo Fy?" Tanya Dea.


"Enggak De, gue bawa bekal, sekalian mau lanjutin nulis novelnya." Jawab Ify.

"Dasar lo, nulis mulu." Ujar Rio. Ify hanya cengengesan mendengar ucapan Rio.

"Oh yaudah. Gue sama Rio keluar dulu yaa." Pamit Dea.

"Iya sip."

"Bye Ify." Ucap Dea dan Rio sambil berjalan keluar kelas.

"Bye."


                Setelah Dea dan Rio pergi, Ify kembali diam. Di pikirannya terekam jelas kenangannya bersama sahabat-sahabatnya. Lima bulan lebih mereka tidak pernah bersama lagi. Ify rindu melihat canda tawa ketiga sahabatnya karna kekonyolan yang biasa ia buat.

*****

"Pagi dunia." Sapa Ify sambil memasuki kelasnya dengan tampang yang konyol.

"Ify pea, sekarang siang bego!" Tanggap Shilla sambil tertawa. Memang pada saat itu sekolah mereka masuk siang.

"Oh my god, perasaan tadi di rumah gue mataharinya masih tidur." Lawak Ify dan membuat Shilla, Sivia dan Agni tertawa.

"Haha, gila lo Fy jayus banget dah." Tanggap Sivia dengan keadaan masih mencoba menghentikan tawanya.

" Iya sumpah pe'a dah." Tambah Agni yang masih ngakak.

" Lucu sih lucu tapi gak usah ngatain pe'a dong." Manyun Ify dan sukses membuat ketiga sahabatnya itu tertawa terbahak bahak.

*****

             Bel istirahat pun berbunyi. Tidak seperti lima bulan yang lalu, dimana Ify pergi ke kantin bersama Shilla, Sivia dan Agni. Sekarang yang ia lihat ketiga sahabatnya pergi ke kantin tanpanya.


              Tidak lama kemudilan sahabat-sahabatnya itu kembali ke dalam kelas sambil membawa jajanan mereka. Dan kembali seperti lima bulan yang lalu, dimana sehabis dari kantin mereka berkumpul di satu meja sambil memakan jajanan mereka, dan untuk sekian kalinya yang Ify lihat hanya 3 sahabatnya, Angel dan Zevana. Ify kembali tersenyum dan memakan bekalnya. Ia duduk sendirian, karna teman-teman nya yang lain sedang pergi ke kantin, dan kebanyakan dari mereka memilih makan di kantin.

              Tiba-tiba Ify merasakan ada yang mengalir dari hidungnya. Darah. Darah yang mengalir deras dari hidungnya. Ify panik, dan mencari tisu di tasnya tapi nihil, kepalanya pun sangat sakit. Akhirnya, Ify pun menahan darahnya mengggunakan lengan seragamnya. Seragam yang tadinya putih, sebagian kini berwarna merah.

"Ify lo gak papa?" Tanya Rio yang baru saja datang bersama Dea. Pria itu dengan cekatan mengambil tissue dari meja temannya dengan asal. Lalu ia menyumbat hidung Ify.

"Fy lo kenapa?" Tanya Dea panik.

"De tolong ambilin obat gue di tas." Ucap Ify lemas. Dea pun mengambil obat dan air putih yang ia beli tadi, lalu ia berikan pada Ify. Setelah Ify menelan obatnya, dengan perlahan, darah yang keluar dari hidungnya mulai berhenti.

"Fy are you okay?" Tanya Dea lagi dengan nada yang khawatir.

"Iya, gue nggak apa-apa kok." Jawab Ify dengan mencoba untuk tersenyum di balik tubuhnya yang lemas.

"Lo kerumah sakit aja ya Fy." Saran Rio.

"Ngak usah Yo, gue mau ke UKS aja. Temenin gue ya De." Ucap Ify.

"Yaudah kalo gitu. Yo nanti pelajaran Bu Winda izinin gue sama Ify ya." Pamit Dea.

"Okay. "

                 Ify dan Dea pun pergi ke UKS. Rio masih duduk di bangku Ify, ia sebenarnya ikut sedih melihat keadaan Ify. Rio melihat Shilla, Sivia, dan Agni sekilas. Emosinya sangat terpancing melihat mereka yang masih bisa bercanda ria dengan keadaan sahabatnya yang sedang sakit, bahkan mereka tidak peduli dengan Ify. Rio pun menghampiri meja mereka yang tidak jauh dari meja Ify.

"Begini ya sikap yang katanya Ify sih sahabat dia." Sindir Rio.

"Maksud lo apa?" Tanya Shilla sinis.

"Pura-pura bego, apa lo semua emang pada bego beneran? Lo nggak lihat tadi Ify mimisan sampai lemas gitu. Kalian yang di kelas bukannya ditolongin."

"Kita bantuin dia? Ogah!" Seru Sivia.

"Dia itu bukan lagi sahabat kita, ngerti lo!" Ucap Agni.
"Yayaya... bener emang kalian bukan sahabatnya Ify lagi. Karna kalian emang nggak pantes jadi sahabat Ify."

"Sekarang pikir aja, siapa yang selama ini menghibur kita setiap hari? Siapa yang bantuin kalian nyelesain masalah? Siapa yang selalu bikin kalian, kita ketawa ? IFY! Ingat nggak sih Lo semua?" Shilla, Sivia dan Agni terdiam sambil mencerna ucapan Rio.

"Dengan semua yang udah Ify lakuin ke kalian, apa balesan kalian? Kalian mencaci maki Ify hanya karena berita hoax doang? Kalian giniin Ify, Ify marah nggak? Kalian ngucilin Ify, Ify marah nggak? Kalian berbulan-bulan berbuat jahat sama Ify, Ify bales nggak? Disaat kalian udah nggak menganggap dia sahabat kalian lagi, Ify nggak pernah sekali pun bilang kalian musuh, dia tetap menganggap kalian sahabatnya."


"Satu hal yang dapat gue simpulkan, Lo semua perempuan nggak berperasaan!!"

         Setelah puas mengeluarkan isi hatinyam, Rio pergi meninggalkan kelas dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Sepeninggalnya Rio, Shilla, Sivia, dan Agni masih terdiam membeku.

"Wetss guys jangan terpengaruh sama mereka, palingan si Ify cuma cari perhatian aja." Ucap Angel

"Tau! Mimisan mah anak kecil juga sering." Tambah Zevana.

"Iya juga ya, hampir aja gue percaya." Jawab Shilla dan di angguki oleh Agni dan Sivia.

"Palingan dia sengaja nyuruh si Rio ngomong kayak gitu." Tambah Agni. 

               Diam-diam, Angel dan Zevana tersenyum puas melihat itu semua.


Bersambung...

Boleh banget yang mau dukung lebih, bisa klik link di bawah ini ya:
https://saweria.co/octobersstory

Berapa pun saweran kalian, sangat mendukung loh 😁 Thank u!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sorry, I Have to Go! - Part 4

Devil Rider - 51