Sorry, I Have to Go! - Part 2
UKS
"Hai De, Fy. " Sapa Rio.
"Hai." Balas keduanya.
"Gimana keadaan lo? " Tanya Rio.
"Enakkan Yo. "
"Fy lo jujur sama kita dong, sebenarnya lo kenapa? Gue yakin ada yang lo sembunyiin dari kita!" Desak Dea kepada Ify. Ify sempat terdiam lalu ia menghelas nafas.
"Kanker otak setadium akhir. " Ucap Ify dengan tatapan kosong. Dea dan Rio terlihat sangat terkejut dengan pengakuan Ify.
"Menurut dokter kesempatan gue sembuh cuma 20%. Dan umur gue diperkirakan udah nggak lama lagi."
"Lo...lo bercanda kan Fy. Nggak mungkin Fy, nggak mungkin! " Ucap Dea tidak percaya, air matanya pun tidak terbendung lagi.
"Untuk kali ini gue serius De."
"Kenapa lo baru cerita ke kita sekarang Fy?" Tanya Rio.
"Maaf, gue cuma nggak mau ngerepotin dan ngebebanin kalian." Jawab Ify tertunduk.
"Kok lo mikirnya gitu sih Fy, kita ini sahabat lo. Nggak ada kata ngerepotin di antara sahabat." Jelas Rio.
"Dan kenapa lo gak kemo aja?" lanjutnya.
"Percuma Yo, penyakit gue udah terlalu parah. Sekarang gue pasrah, gue tinggal nunggu waktunya aja."
"Fy, lo nggak boleh ngomong gitu." Ucap Dea sambil memeluk Ify.
"Iya Fy, apa pun yang terjadi sama lo, kita akan selalu ada buat lo." Ujar Rio.
"Thanks ya."
"Anytime."
"Oh iya, apa lo nggak mau kasih tau ke anak-anak tentang ini?" Tanya Dea sambil melepaskan pelukannya.
"Jangan De! Please, gue mohon jangan bilang ke mereka. Walaupun hubungan gue sama mereka lagi nggak baik, gue tetap sayang sama mereka dan gue nggak mau mereka nantinya hanya mengasihani gue." Rio menarik Ify ke dalam pelukannya. Ia sangat bangga memiliki seorang sahabat yang berhati besar seperti Ify.
"Gue bangga sama lo Fy. Dan gue mohon lo jangan ninggalin kita." Ucap Rio di sela pelukannya.
"Gue nggak janji Yo. Cuma mukjizat yang bisa merubahnya. Tapi yang harus kalian tau, gue sayang sama kalian, kalian sahabat terbaik untuk gue." Jawab Ify. Rio melepas pelukannya.
"Udah dong jangan pada sedih, gimana kalo kalian bantu gue buat ngisi hari-hari gue selama sakit? "
"Tanpa Lo minta, akan kita lakukan Fy."
*****
Hampir dua bulan Dea dan Rio menemani Ify mengisi hari-harinya. Mereka pergi bersama, seperti nonton bioskop di mall, atau sekedar makan dan belajar bersama. Sampai pada akhirnya penyakit Ify kambuh. Ify di larikan kerumah sakit dan ia pun mengalami koma.
Sudah tiga hari Ify terbaring di rumah sakit dan selama itu juga Dea dan Rio selalu menemani nya setiap pulang sekolah. Seperti sekarang. Saat bel pulang berbunyi, Dea dan Rio langsung menuju parkiran untuk menuju ke rumah sakit.
"Langsung kerumah sakit?" Tanya Dea.
"Iya. Eh De gimana kalo kita kasih tau ke Agni, Shilla sama Via tentang keadaan Ify?"
"Gue sih pengennya gitu Yo, tapi kata Ify kan jangan." Rio mengangguk paham.
"Yaudah deh. Cepat naik." Dea mengangguk dan naik ke boncengan motor Rio. Lalu mereka berdua langsung pergi menuju rumah sakit tempat dimana Ify di rawat.
*****
Cafe
"Eh, Ify kok beberapa hari ini nggak masuk ya?" Tanya Sivia.
"Iya ya Vi, jujur gue kangen sama dia, nggak ada dia sepi banget." Kata Shilla.
"Sama."
"Oh iya, gue sebenarnya nggak yakin sih kalo si Ify yang nulis itu di blognya." Kata Agni.
"Hem gimana ya, gue sih percaya nggak percaya." Tanggap Shilla sambil menggaruk kepalanya bingung.
"Gue juga bingung. Tapi apa kita nggak keterlaluan giniin Ify?" Ujar Sivia.
"Tau lah! Habisnya kata Zevana sama Angel itu benar-benar hasil tulisan Ify."
"Iya sih. Tapi gue masih kepikiran sama omongan Rio tadi." Kata Agni sambil menunduk.
"Segitu jahatnya kita ya? Ify juga nggak pernah marah atau membalas perbuatan kita selama ini sama dia." Kata Sivia yang ikut tertunduk.
*****
Rumah Sakit
Dea dan Rio memasuk rumah sakit dan berjaaln muju ruang rawat Ify yang sudah mereka hapal di luar kepala.
"Siang Tante." Sapa mereka berdua.
"Siang Dea, Siang Rio." Balasnya.
"Gimana tante keadaan Ify?" Tanya Dea.
"Kata dokter kondisi Ify mulai stabil. Tap...tapi kankernya makin parah." Jawab Mama Ify sambil menangis.
"Sabar ya tante, kita yakin kok Ify kuat. Dan Ify pasti sembuh." Kata Dea sambil mengelus pundak Mama Ify.
"Makasih ya nak Dea."
"Iya tante sama-sama."
"Oh iya tan, tante pulang aja dulu. Biar Rio sama Dea yang jagain Ify." Kata Rio.
"Apa tante gak ngerepotin kalian? "
"Enggak kok tan. Kasian tante dari kemaren nemenin Ify terus. Tante istirahat dulu aja di rumah, nanti malam tante balik lagi. " Jelas Dea.
"Yaudah tante pamit. Titip Ify ya?"
"Iya tante."
Setelah Mama Ify meninggalkan ketiganya, Dea duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Ify sambil menggenggam tangannya. Dan Rio berdiri di sampingnya.
"Fy gue sama Rio dateng nih." Sapa Dea, dan sudah pasti tidak ada yang menyahut.
"Iya Fy. Kita kangen sama lo. Bangun dong. " Timpal Rio.
"Tau lo Fy, emang nggak bosen tidur terus." Ucap Dea yang terus mencoba tersenyum, meskipun airmata sudah siap jatuh kapanpun. Genggamannya pada tangan fy semakin kuat.
"Please Fy bangun! Gue kangen candaan lo, gue kangen suara cempreng lo, gue kangen senyum lo Fy. Please bangun fy! Gue mohon!! " Ujar Dea yang mulai histeris. Rio dengan cepat mendekap tubuh Dea dan menenangkan gadis itu.
"Sabar De. Gue yakin Ify akan bangun."
Saat Dea mulai tenang, Rio melepas dekapannya. Dan di saat yang bersamaan keduanya melihat cairan bening yang jatuh di sudut mata Ify. Dea dengan sigap langsung menyeka menggunakan jarinya.
"Ify, maaf udah bikin lo sedih." Ujar Dea menyesal.
"De, Ify pasti nanti bangun. Buktinya aja dia masih merespon kita, walaupun hanya pakai air matanya."
"Iya Yo. Fy maafin gue ya." Sesal Dea sambil mengecup tangan Ify. Dea kembali tersenyum dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah pucat teman dekatnya itu.
"Yo nyanyi yuk."
"Ayo!" Rio pun mengambil gitarnya yang sengaja ia tinggal di kamar rawat Ify, lalu ia duduk di sofa yang ada di sana.
"Ify ini lagunya buat ngehibur lo ya." Ucap Dea " Kita Selamanya Yo. Lagu favorit nih bocah."
Dea pun memberi aba-aba kepada Rio dan Rio mulai memetik gitarnya.
"Fy denger nih gue nge-rap." Canda Dea sebelum mulai bernyanyi.
'Eiyo..it's not the end, it's just the beginning
Ok..detak detik tirai mulai menutup panggung
tanda skenario..eyo..baru mulai diusung
Lembaran kertas baru pun terbuka
tinggalkan yang lama biarkan sang pena berlaga
'Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau
takkan pernah berlalu.
Masa jaya putih biru atau abu-abu (hey (Rio))
Memori cerita cinta aku, dia dan kamu
'Saat dia (dia (Rio)) dia masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
dat was the moment a part of sweet memory
'Kita membumi, melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu dan bungah
Finally now
it's our time to make a history
Dea memberi kode ke Rio untuk ikut bernyanyi.
'Bergegaslah, kawan..tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan.
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
Kenanglah sahabat..kita untuk slamanya!
'Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
satu cerita teringat di dalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan
'Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi..(huh) hal yang biasa
Satu per satu memori terekam
di dalam api semangat yang tak mudah padam
'Kuyakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu, kawan..
Kau tau, kawan..kau tau kan?
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
'Bergegaslah, kawan..tuk sambut masa depan
tetap berpegang tangan, saling berpelukan.
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan!
Kenanglah sahabat, kita untuk slamanya...Kita untuk selamanya...
Setelah mereka berdua menyelesaikan nyanyiannya, Dea melihat tangan Ify yang bergerak.
"Yo, Yo Ify sadar." Kata Dea semangat.
" Panggil dokter De! "
Dea pun mengangguk. Ia berlari keluar, dan tidak lama kemudian ia masuk bersama dokter
yang selama ini memang merawat Ify. Dokter itu pun memeriksa keadaan gadis itu.
"Gimana keadaan Ify dok?"
"Syukurlah, Ify sudah melewati masa kritisnya." Ucap sang Dokter.
"Allhamdulillah."
"Yasudah kalau begitu, saya tinggal dulu ya." Pamit dokter tersebut.
"Iya silahkan dok." Dokter itu pun pergi. Di kamar hanya tinggal Rio, Dea dan Ify.
" Hai Fy, akhirnya lo bangun juga." Sapa Rio.
"Emang gue tidur berapa lama Yo?" Tanya Ify dengan suara parau.
"Tiga hari. "
" Hah, lama amat! Ckckck kebo banget gue sih. Pantes gak ada yang mau sama gue. "
"Ify, Ify keadaan kayak gini masih sempet - sempetnya." Ujar Dea. Ify hanya menunjukkan cengirannya.
"Hehe, oh iya nyokap gue mana?" Tanya Ify.
"Gue udah telfon kok, sekarang lagi di jalan." Jawab Dea. Ify hanya menganggukkan kepala paham.
"De, Yo, thanks yaa lo berdua udah sering bantuin gue. "
"Santai Ify! Itulah gunanya sahabat. Ya nggak De?" Kata Rio.
"Yoi."
*****
Setelah beberapa hari kemudian Ify sudah diperbolehkan untuk pulang. Pagi harinya Ify bergegas menuju sekolah. Sebenarnya ia belum diperbolehkan untuk sekolah namun ia memaksa dengan alasan takut ketinggalan pelajaran.
Pada saat Ify memasuki kelas, teman-teman sekelas Ify langsung heboh. Bagaimana tidak, salah satu teman mereka yang paling absurd, yang sudah tidak masuk berhari-hari, tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Ify menaruh tas di mejanya, banyak teman-temannya yang menghampiri mejanya sekedar menanyakan keadaan nya saat ini, mereka semua memang tidak tau soal penyakit Ify, yang mereka tau Ify hanya sakit tipes. Ify menjawabnya dengan santai, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Sebenarnya Ify tau keadaannya sekarang itu hanya untuk sementara. Ia tau kematian akan menjemputnya sebentar lagi, ia tau sebesar apapun ia berharap semuanya tidak akan berubah. Bukan ia tidak percaya akan adanya keajaiban Tuhan, hanya saja ia merasakan waktu itu sebentar lagi datang, ia bisa merasakannya.
"Ehh guys gue minta perhatiannya bentar dong!" Teriak Ify di depan kelas. Anak-anak yang tadi sedang sibuk masing-masing pun langsung hening. Dea dan Rio menatap Ify bingung, begitupula dengan Shilla, Sivia dan Agni.
"Sorry gue ganggu waktu kalian sebentar." Ify menghela nafas sebentar, baru melanjutkan maksudnya.
"Gua cuma mau minta maaf sama kalian, kalo selama ini gue suka jailin kalian dan lain - lain. Dan gue juga mau ngucapin terima kasih sama kalian, hampir 3 tahun kita sekelas bareng, dan selama itu juga kalian udah norehin begitu banyak kenangan di hidup gue."
"Gue nggak sempurna, tapi kalian terima gue apa adanya sebagai teman kalian. Gue juga mau minta maaf atas gangguan yang kalian terima selama ini hehe." Ucap Ify sambil tertawa ringan.
"Gangguan kayak, pagi-pagi suara cempreng gue yang merusak kuping kalian, kotak pensil kalian yang baru di tinggal 1 menit langsung hilang di telan bumi hehe, anak - anak yang suka gue cie-ciein, anak - anak yang suka gue kerjain sampe nangis, peace yaa." Beberapa anak ada yang ikut tertawa, ada juga cemberut karna menjadi salah satu mantan korban kejailan Ify. Namun beda dengan Dea dan Rio. Mereka berdua merasakan hawa tak enak dari tingkah laku Ify saat ini.
"Gue harap kalian mau maafin gue yaa. Udah itu doang kok yang mau gue sampein, makasih ya buat waktunya." Ucap Ify mengakhiri sebuah..mungkin bisa di bilang...salam perpisahan.
Waktu 'itu' pasti datang...
Bersambung...
Boleh banget yang mau dukung lebih, bisa klik link di bawah ini ya:
https://saweria.co/octobersstory
Berapa pun saweran kalian, sangat mendukung loh 😁 Thank u!
Komentar
Posting Komentar