Sorry, I Have to Go! - Part 3
'NIT...NIT...NIT
Di ruangan bernuansa putih ini. Sunyi. Hanya sebuah isakan yang sedikit terdengar, semua fokus melantunkan do'a untuknya.
Di ruangan bernuansa putih ini. Sunyi. Hanya sebuah isakan yang sedikit terdengar, semua fokus melantunkan do'a untuknya.
"Ify sayang bangun nak." Ucap Mama Ify sambil menangis.
"Ma sabar Ma." Ucap Papa Ify sambil memeluk istrinya.
"Ify Pa, Ify..."
"Iya Ma, Papa tau. Tapi kita harus tetap sabar, Ify pasti ikut sedih kalo Mama kayak gini."
"Kak Ify bangun kak, hikss... in...ini Deva. Deva kangen hikss...sama kakak." Deva, adik Ify ini sangat menyayangi sang kakak. Bagaimana bisa, kakaknya yang bawel ini bisa menjadi diam seperti ini. Bahkan membuka matanya saja tidak.
"Deva kamu yang sabar yaa." Ucap Rio sambil merangkul Deva.
"Iya kak."
"Yo, Ify pasti bagunkan?" Ujar Dea yang berdiri di belakang. Air matanya sudah menggenangi pipinya sedaritadi. Rio pun menghampiri Dea.
"Hanya Tuhan yang bisa nentuinnya De, kita disini cuma bisa berdoa." Ucap Rio.
Dea menyenderkan kepalanya ke bahu Rio, dan Rio pum mengelus rambutnya. Tatapan Dea masih fokus kepada Ify yang terbujur kaku di kasur itu. Mungkin raganya berada di kasur itu, namun jiwanya telah pergi sebagian. Ya, setelah kejadian di kelas itu, Ify tiba-tiba pingsan. Hidungnya mengeluarkan banyak darah. Dea dan Rio langsung membawanya ke rumah sakit, Deva dan papa Ify
juga langsung pulang ke Indonesia.
Ify kembali ke dalam masa komanya. Sudah seminggu lamanya ia terbaring lemah disana Tidak bergerak sama sekali, bagaikan orang yang kehilangan separuh nyawanya. Selama seminggu itu juga, Ify hanya hidup bergantung dengan alat-alat yang menempel pada tubuhnya.
"Bagaimana Bu, Pak? Apa anda sudah sepakat dengan keputusan ini?" Tanya Sang Dokter.
"Iya Dok kami siap!" Ucap Papa Ify pasrah.
"Pa..." Tangis Mama Ify pun pecah kembali.
"Sstt Ma dengerin Papa, kita harus ikhlas melepas Ify pergi. Mungkin dengan cara itu dia bisa bebas dan bahagia. Kalau begini terus pasti Ify tersiksa Ma." Nasihat Papa Ify.
Sebenarnya Papa Ify juga sulit melepas Putri sulung nya itu. Putrinya yang selalu membanggakan nya, putri yang menurutnya tak pernah membuatnya kecewa sedikit pun.
"Iya Pa, Mama akan coba mengikhlaskan Ify. Dok saya siap!" Ucap Mama Ify tegas. Ia mendekati putri nya itu, dan mengecup keningnya.
"Sayang Mama ikhlas kamu pergi, Mama harap kamu bahagia ya sayang." Bisik Mama Ify, kemudian bergantian dengan sang Papa Ify yang mendekati putri sulung kebanggaannya itu.
"Ify sayang Papa juga ikhlas kamu pergi. Walaupun kamu nanti pergi, kamu akan tetap jadi putri kebanggaan Papa." Kata Papa Ify, dan mencium kening putrinya itu. Selanjutnya Deva, adik semata wayang Ify. Deva mendekati sang kakak dan
memeluknya.
"Kak, Deva sayang sama kakak. Sebenernya Deva nggak mau kakak pergi ninggalin Deva. Tapi kalo itu bisa bikin kak Ify bahagia, Deva ikhlas kakak pergi." Ucap Deva di sela pelukannya. Deva melepas pelukannya dan mencium kening dan kedua pipi Ify.
"You're my best sister!" Bisik Deva di telinga Ify sebelum ia mundur, dan memberi ruang untuk Rio dan Dea. Rio dan Dea maju mendekati sahabat terbaiknya itu. Dea di sisi kiri ranjang Ify, sedangkan Rio di sisi kanan.
"Fy lo harus pergi ya?" Ucap Dea sambil mengelus rambut Ify lembut. " Kenapa cepat banget sih Fy?" Lanjutnya dengan air mata yang masih terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Fy ini gue Rio, maaf ya kalo gue pernah punya salah sama lo. Lo sahabat terbaik gue Fy, gue bangga punya sahabat kayak lo, lo nggak akan pernah gue lupain." Rio dan Dea menggenggam erat tangan Ify lalu mengecup punggung tangan Ify lama. Dan untuk terakhir kalinya mereka berdua memeluk erat sahabat nya itu.
"Ify...gue ikhlas lo pergi." Bisik Rio tepat di telinga Ify. Rio pun melepas pelukannya dan juga mundur, tapi tidak dengan Dea, ia tetap memeluk Ify.
"Fy, ini gue Dea. Ma...maaf kalo gue punya salah sama lo. Lo sahabat terhebat gue Fy. Semoga lo...lo bahagia Fy. Gue gak akan pernah ngelupain lo, lo juga jangan lupain gue ya di sana." Dea pun melepas pelukannya, tapi ia tetap menggenggam tangan Ify.
Dea mencoba tersenyum di sela air matanya yang mengalir deras. Menatap Ify dalam untuk terakhir kalinya lalu menghela nafas berat, untuk mengucapkan kalimat yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan sama sekali.
"Gue ikh...ikhlas lo...lo pergi." Dea melepas genggamannya dan langsung berjalan menjauhi ranjang Ify. Dea hampir saja terjatuh, karna tubuhnya sangat lemas, Rio dengan sigap menopang tubuhnya, dan membopongnya ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Dok silahkan, lebih cepat lebih baik. Agar putri saya bisa tenang." Ucap papa Ify kepada dokter yang selama ini merawat Ify.
"Iya pak, Sus tolong bantu saya." Jawab sang Dokter.
"Baik Dok." Suster itu pun melepas satu persatu alat-alat yang di pasang di tubuh Ify, pada saat salah satunya di lepas...
'NITTT...
'Waktu' itu datang, benar-benar datang. Ify pergi untuk selamanya, meninggalkan banyak cerita hidupnya.
*****
Pemakaman Ify berlangsung sangat khitmat. Kabar meninggalnya Ify sudah tersebar luas. Hampir seluruh teman dekat dan guru Ify di kelas datang ke pemakaman Ify termasuk Shilla, Agni dan Sivia. Setelah selesai, satu persatu orang sudah pergi meninggalkan makam Ify, namun tidak untuk Shilla, Agni, Sivia, Dea, dan Rio mereka ber - 5 masih berada di makam Ify. Shilla, Agni, dan Sivia berjongkok di samping makam Ify, sedangkan Dea Rio berdiri di belakang mereka.
"Fy maafin kita yaa, kita udah keterlaluan sama lo." Ucap Shilla sambil memegang nisan yang bertuliskan 'Alyssa Saufika' itu.
"Iya Fy, gue terlalu bodoh, untuk menilai yang salah dan yang benar. Maafin kita Fy. Maaf atas semua apa yang udah gue lakuin sama lo. Lo tetap sahabat gue. Gue harap lo mau maafin gue yaa Fy." Ujar Agni.
"Maaf, gue emang gak pantes buat si sebut sahabat lo lagi Fy, gue gak ada pada saat lo bener-bener butuh, keadaan lo aja gue gak tau Fy. Tapi gue harap ada ruang maaf di hati lo buat gue, Shilla dan Agni. Makasih untuk semuanya Fy, semoga lo tenang dan bahagia disana. You're the best Fy." Tambah Sivia. Mereka bertiga pun berdiri dan menatap Rio dan Dea.
"Yo kita bertiga minta maaf ya sama lo buat omongan kita tempo hari." Ujar Agni kepada Rio.
"It's Okay." Jawab Rio.
"Kayaknya yang lebih cocok jadi sahabat Ify itu lo berdua deh, bukan kita." Ucap Sivia dan di angguki oleh Shilla dan Agni.
"Udahlah semuanya udah lewat, percuma, penyesalan gak ada gunanya. Lebih baik kita semua belajar dari apa yang udah terjadi. " Ujar Dea bijak.
"Emm ya. Sekali lagi gue minta maaf sekaligus thanks ya saat kita gak ada di samping Ify, kalian berdua selalu siap di samping dia. Makasih udah jagain sahabat terbaik kita." Kata Shilla. Rio dan Dea hanya tersenyum dan mengangguk.
Kemudian mereka bertiga pergi. Sepeninggal Shilla, Agni dan Sivia, Rio dan Dea masih berada di sana.
"Fy gimana disana? Pasti lo bahagia banget kan." Ucap Dea dengan senyumman.
"Lo tenang ya di sana. Padahal bentar lagi kita mau lulusan Fy. Pasti nanti sepi deh kalo gak ada lo haha." Tambah Rio sambil terkekeh ringan.
"Pastinya, suara cempreng lo kalo teriak udah gak akan kita denger lagi haha. Oh iya, Kita pamit ya Fy, love you!" Kata Dea lalu berjalan perlahan meninggalkan makam Ify.
"Take care Fy!" Kata Rio dan menyusul Dea.
*****
Sebulan setelah pemakaman Ify, kelas XII di sekolah nya mengadakan acara kelulusan. Aula kini yang sudah penuh dengan orang tua murid, murid kelas X,XI, dan XII, dan seluruh guru yang mengajar disana. Rio selaku ketua panitia naik keatas panggung.
" Pagi semuanya." Sapa Rio menggunakan mic di panggung.
" Pagiiiii."
"Saya Mario, selaku ketua OSIS sekaligus ketua panitia mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas izinnya kita bisa berkumpul disini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para hadirin yang menyempatkan waktunya untuk memenuhi undangan. Dan juga saya mewakili segenap kelas XII, ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak/ibu dewan guru atas bimbingannya, maaf jika selama ini kami melakukan kesalahan, yang disengaja mau pun tidak. Lewat acara ini kami seluruh panitia acara dan seluruh siswa/siswi kelas XII akan membuka cerita kenangan kami selama 3 tahun ini, maka dari itu untuk acara kelulusan kali ini akan sedikit berbeda dari tahun-tahun kemarin. Akan banyak kejutan pada acara ini. Sekian dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf. Terima Kasih." Rio mengakhiri pidato singkatnya, lalu turun dari atas panggung. Acha dan Ozy selaku MC naik ke atas panggung dan membuka Acara.
"Pagi semuanyaaa!" Sapa keduanya.
"Pagiiii!"
"Nah tadi kan udah pembukaan dari ketua OSIS kita, yang fenomenal itu hehe. Sekarang kita lanjut aja ya Zy" Ucap Acha
"Iya bener banget, sebelumnya kenalin dulu dong MC kece yang satu ini." Canda Ozy sambil menunjuk dirinya dan mendapat sorakan dari tamu undangan maupun teman-temannya.
" Wooo" Sorak semua tamu undangan.
" Elo sih Zy." Ujar Acha.
" Yee emang gue kece."
" Kecebong anyut iya"Cceletuk salah satu siswa yang membuat gedung aula penuh dengan suara gelak tawa.
"Hahaha keren tuh huftt huftt Zy haha." Ujar Acha sambil berusaha menghentikan tawanya.
"Wah songong tuh tadi yang ngomong." Kata Ozy sambil menunjuk siswa yang tadi.
"Ah udah lah Zy, daripada ribet mikirin Kece nya lo itu, mendingan kita lanjut. Oh iya saya Acha, dan partner saya..." Ujar Acha menggantungkan kalimatnya.
"Ozy." Ucap Ozy yang sudah mulai serius.
"Kita mau mulai dari mana dulu nih Zy?"
"Emm sekarang kita liat penampilan-penampilan dari setiap kakak-kakak dari kelas, dari XII IPA1 - XII IPA5 dan XII IPS1 - XII IPS5 ." Jawab Ozy.
"Nah iya bener banget! Jadi nanti dari setiap kelas itu, mereka akan menampilkan sesuatu yang bertemakan 'Membuka Semua Kenangan' ." Jelas Acha.
"Dan mereka akan membuka dan menampilkan kenangan mereka selama 3 tahun berada dalam sekolah kita tercinta ini." Lanjut Ozy.
"Ini dia penampilan pertama dari kelas XII IPS1!" Teriak Acha dan Ozy.
Setelah seluruh kelas IPS selesai, Ozy dan Acha kembali naik ke atas panggung.
"Wahh sumpah tadi kocak-kocak banget, sampe ngakak gue di belakang." Ucap Ozy.
"Bener banget Zy, ternyata senior kita nggak se serem yang kita pikirkan wkwkwk peace yaa." Kata Acha sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya.
"Wah wah awas lo Cha pulang di jegat hahaha!" Ledek Ozy.
" Yahh jangan dong, kakak-kakak yang cantik yang ganteng jangan ya." Ujar Acha dengan wajah melas.
"Hahaha udah ah Cha, muka lo makin jelek di gituin." Ucap Ozy dan membuatnya manyun.
"Canda,canda Cha. Okay kelas IPS udah semua, berarti tinggal kelas IPA nih." lanjutnya.
"Ah sebenernya gue masih bete tapi yasudahlah. Kelas IPA yang akan tampil pertama kali adalah kelas yang fenomenal banget, selain termasuk unggulan, anak-anaknya juga famous di sekolah karena prestasi mereka."
"Iya Cha, di kelas ini juga ada Kak Rio sebagai Ketos, ada kak Cakka kapten tim basket, ada Kak Shilla sebagai kapten cheers dan masih banyak lagi. Emm Cha jadi penasaran yaa, kan kita yang junior kelasnya di bawah, jadi nggak tau deh kelas yang satu ini kayak gimana."
"Sama Zy gue juga jadi penasaran, yaudah biar kita gak penasaran, langsung aja
ini dia... XII IPA1!!!"
Bersambung...
Boleh banget yang mau dukung lebih, bisa klik link di bawah ini ya:
https://saweria.co/octobersstory
Berapa pun saweran kalian, sangat mendukung loh 😁 Thank u!
Komentar
Posting Komentar