Sorry, I Have to Go! - Part 5

          Sesampai Rio, Agni, dan Dea di kelas, teman-temannya sudah berkumpul dan duduk dengan rapih. Mereka tau Rio mengumpulkan mereka karena berhubungan dengan Ify, sahabat mereka. Rio berdiri di depan kelas, sedangkan Dea dan Agni ikut duduk di bangku masing-masing.

"Semuanya udah ngumpul kan?" Semua mengangguk dalam diam,

"Gue ngumpulin kalian karena ada amanah yang harus gue sampaikan ke kalian, amanah dari Ify."

"Sebelum dia pergi, kayaknya dia udah nyiapin sesuatu khusus buat kita. Deva, adiknya Ify yang ngasih ini sama gue." Rio mengacungkan sebuah amplop dan sebuah kaset.

"Kata Deva, dia temuin ini di meja belajar Ify, dengan keadaan laptopnya yang masih nyala dan ada video yang baru selesai Ify buat. Menurut Deva, Ify pengen masukin videonya ke kaset ini tapi nggak sempet. Akhirnya Deva yang mindahin videonya. Gue juga belum nonton videonya, yang pasti ini buat kita, karna di kasetnya ada tulisan 'For XIIPA1' . Oh iya satu lagi, ini surat yang Ify buat sebelum dia koma dan dia nyuruh gue buat bacain di depan kalian semua pada saat yang tepat. Dan mungkin ini saatnya." Rio mengakhiri ceritanya dan berjalan menuju laptopnya yang berada di meja guru, lalu Rio menyetel kaset tersebut dan menyambungkan laptopnya ke proyektor yang mengarah ke layar putih di depan, lampu kelas pun sudah mereka redupkan. Pada saat video itu di mulai, mereka semua diam, menyimak dengan baik.

             Awal video itu memperlihatkan Ify yang duduk di belakang piano putih kesayangannya. Dea, Rio, Agni, Shilla, Sivia, Gabriel, Alvin, Cakka, Sion, Oik, Dayat dan teman Ify lainnya tersenyum karena mereka bisa melihat wajah sahabat mereka lagi.

"Hai guys! Gue mau ngucapin banyak-banyak terima kasih atas semua kenangan yang udah kalian tulis di hidup gue. Gue, orang yang hanya bisa berpura-pura ceria di depan kalian. Tapi jujur gue nggak pernah bermaksud buat ngebohongin kalian. Gue cuma pengen di sisa hidup gue, gue bisa kasih senyuman gue yang terakhir kalinya buat orang-orang yang gue sayang."

"Kayaknya segitu dulu ya pidatonya hehe nanti nangis lagi kalian." Kekeh Ify.

"Pada saat kayak gitu aja lo masih bisa ketawa Fy." Gumam Sivia.

"Senyum lo Fy, gue kangen banget." Lirih Rio sambil terus menatap dalam video itu.

"Langsung aja deh, ini buat kalian semua, anggap aja isi hati gue." Di akhir kalimat itu, Ify mulai menekan tuts tuts pianonya. Dan ia mulai bernyanyi.



'Usap air matamu
Dekap erat tubuhku
Tatap aku...sepuas hatimu

           'Nikmati detik demi detik
            Yang mungkin kita tak
            bisa rasakan lagi
            Hirup aromo tubuhku
            Yang mungkin tak bisa
            tenangkan gundahmu

'Nyanyikan lagu indah
Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali
Nyanyikan lagu indah
Tuk melepasku pergi dan tak kembali

         'Nikmati detik demi detik
          Yang tak mungkin kita bisa
          rasakan lagi
          Hirup aroma tubuhku
          Yang mungkin tak bisa
          tenangkan gundahmu

'Nyanyikan lagu indah
Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali
Nyanyikan lagu indah
Tuk melepasku pergi dan tak kembali

          'Nyanyikan lagu indah
           Sebelum ku pergi dan
           mungkin tak kembali
           Nyanyikan lagu indah
           Tuk melepasku pergi... ku
           pergi

'Nyanyikan lagu indah
Sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali
Nyanyikan lagu indah
Tuk melepasku pergi dan tak kembali.


         Setelah selesai bernyanyi Ify terlihat menghela nafas sambil menunduk, pada saat dia mengangkat wajahnya, satu tetes air mata mulai jatuh ke pipi. Begitu pun dengan mereka yang melihat video itu, mereka semua sangat merindukan sahabatnya.

"Maaf...Gue sangat sangat mohon maaf sama kalian. Di sini gue nggak akan berpura-pura lagi. Dan pada saat kayak gini kalian akan lihat siapa sebenernya seorang IfyAlyssa. Maaf, gue harus nangis di depan kalian."

"Tapi inilah gue. Maaf...Kalo selama ini gue punya salah sama kalian. Kalian bikin hidup gue berwarna, bikin gue punya cerita hidup yang indah. Hidup gue pasti terasa garing banget kalo nggak ada kalian." Ify terkekeh ringan sembari menghapus air matanya.

"Coba kalo lo dari dulu berbagi sama kita Fy, setidaknya kita akan buat sesuatu yang berkesan dalam hidup lo." Ucap Sion.

"Gue ngerasa sahabat yang sangat jahat Fy." Ujar Oik yang masih menatap sosok Ify dengan air mata yang terus mengalir.

"Lo nggak pantas minta maaf Fy dan lo nggak pantas kalo bilang kita yang bikin hidup lo berwarna. Lo Fy! Lo yang bikin hidup kita berwarna, lo yang bikin kita semangat terus." Gumam Alvin.

"Kalian termasuk orang terpenting di hidup gue, selanjutnya kayaknya kalian bisa baca surat dari gue aja yaa. Gue capek." Lirih Ify pelan sambil tersenyum.

"Gue mau istirahat dulu yaa. Bye!" Ify pun mengakhiri video itu.

             Setelah video itu selesai. Rio yang duduk di meja guru melihat sendu ke arah teman-temannya yang masih diam dan tenang.

"Nggak ada lagi yang suka ngumpetin kotak pensil gue kalo gue lagi ke kantin Nggak akan ada lagi yang ngasih gue contekan B.Indo. Inget nggak sih lo Fy, dulu pas gue nggak bisa renang, lo yang ngajarin gue. Akhirnya pas pengambilan nilai, gue dapet nilai yang bagus. Itu semua berkat lo Fy." Ucap Dea keheningan memecahkan keheningan.

"Nggak ada lagi yang suka teriak 'Woi diem!' , nggak ada lagi yang suka ngomelin kita kalo kita nggak bimbel. Ngak ada lagi sosok ketua kelas cewek yang kadang feminim kadang tomboy. Kadang lembut banget, kadang juga galak banget. Gue masih ingat, dulu pas kelas satu lo pernah ngelaporin gue, Sion, Dayat, Alvin, Rio gara-gara kita kabur keluar sekolah padahal belum bel pulang. Abis itu kita ber - 5 musuhin lo gitu haha lucu aja kalo ingat-ingaty." Ujar Cakka sambil tertawa ringan. Giliran Oik yang bercerita,

"Nggak ada lagi yang bisa jadi temen curhat gue. Nggak ada lagi yang jadi konsultan cinta gue. Nggak ada lagi yang suka bantuin gue nyelesain masalah, nggak ada lagi yang akan genggam tangan gue pas gue ada masalah. Dan yang paling gue ingat adalah pas pertama kali kita sekelas dan duduk depan belakangan, dan lo ngajak gue kenalan gitu, awalnya gue kira lo SKSD banget haha, tapi ternyata nggak nyesel temenan sama lo."

"Nggak ada lagi yang bisa jadi penasihat gue. Nggak ada lagi yang bisa gue godain. Nggak ada lagi yang bisa gue panggil  Mama. Nggak ada lagi yang jadi mama kita di kelas, nggak ada lagi yang bisa ngingetin gue kalo gue salah. Dan gue nggak akan lupa, dulu lo pernah bantuin gue pas gue ketemu mantan gue yang lagi jalan sama cowok barunya. Lo ngaku jadi pacar gue, awalnya gue kaget, tapi ternyata rencana lo itu berhasil." Alvin tertawa pelan membayangkan betapa sangat bahagianya ia, bisa mempunyai sahabat seperti Ify.

"Nggak ada lagi yang bisa ngerubah susana 180°, nggak ada lagi yang bilang 'Kenapa lo? Galau? Tenang aja gue free kok, tinggal pilih aja mau via Twitter, LINE, SMS, Skype, Fb semuanya bisa!' Haha kalo sekarang via apa Fy? Gue sangat ingat, pas ujian B.Indo, lo pernah syock ngeliat lembar jawaban gue yang masih sepi, padahal waktu 10 menit lagi. Tanpa gue minta, lo langsung nyerocos dan ngisiin lembar jawaban gue." Ujar Sion sambil menerawang kejadian itu.

"Kita butuh Lo Fy." Lirih Agni.

Merasa cukup dengan semuanya. Rio kembali membuka suaranya,

"Kalian siap buat tau isi surat Ify?" Tanya Rio.

"Kita siap Yo." Jawab Cakka mewakili teman-temannya.

Bersambung...

Boleh banget yang mau dukung lebih, bisa klik link di bawah ini ya:

https://saweria.co/octobersstory

Berapa pun saweran kalian, sangat mendukung loh 😁 Thank u!

Komentar

  1. Ceritanya bikin terharu kak😢😢. Kakak bagus banget bikin ceritanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sorry, I Have to Go! - Part 4

Sorry, I Have to Go - Part 1

Devil Rider - 51